cerpen bagus lupa waktu

Selasa, 24 Desember 2019

cerpen lupa waktu


Lupa Waktu
Bel sekolah mulai terdengar. Suasana sunyi di kelas terpecah dan mulai tidak terkendali. Suara ricuh seperti Pasar Tanah Abang menandakan bahwa sekarang adalah waktunya untuk pulang sekolah. Segera aku menuju ke tempat parkiran dan ku ambil sepedah gayuhku. Jarak sekolah ke rumah memang lah tidak jauh mungkin hanya sekitar 1 km namun itu sudah cukup untuk membuat seluruh badanku bercucuran keringat.
Seperti biasa sepulang sekolah aku langsung menuju kamar. Seakan akan kamar adalah tempat pertama yang harus ku datangi terlebih dahulu. Yah, dipikiranku kamar adalah duniaku. Setelah mengganti pakaian aku segera menuju dapur untuk makan siang.
“Diki main yuk, ke tempat baru!” suara Imar memanggil namaku dari luar rumah.
Secara tergesa gesa ku langsung keluar dari rumah untuk menemui temanku. Sebelum berangkat aku meminta ijin kepada bapak dan diberi batas waktu sampai jam 3 harus sudah sampai rumah. Tanpa pikir panjang aku langsung ikut tanpa menanyakan mau pergi kemana. Karena alasan yang tidak jelas dari Imar, kami harus mencari teman lain lagi untuk bisa pergi ke tempat misterius itu. Walaupun itu butuh waktu lama namun untuk menuju tempat misterius itu aku harus mengikuti perkataan teman ku.
Setelah burkumpul kami berlima sudah siap untuk menuju tempat itu. Ternyata medan yang harus kami lewati adalah pematang sawah yang sangat luas serta para petani yang sibuk dengan sawahnya. Selain petani kami juga banyak menumui orang yang bekerja di tempat pembuatan batu bata. Setelah sekitar 20 menit berjalan menyusuri sawah akhirnya kami sampai juga di tempat yang di katakan teman ku itu. Ternyata tempat itu adalah sebuah sungai yang besar yang belum pernah ku temui .
Setelah mengerti bahwa tempat itu adalah sungai tanpa berfikir panjang aku dan teman teman ku langsung mandi sambil bermain air. Untuk menambah kenikmatan, Imar mencari batang pisang untuk digunakan mainan. Kami berlima memang jago berenang oleh karena itu aku mempunyai ide untuk membuat lomba renang dengan hukuman yang kalah harus berjalan belakang sendiri saat pulang. Sebelum berlomba kami pun bersiap siap. Ada yang sudah pemanasan dengan renang kesana kemari, ada juga yang masih senam untuk membuat tubuh rileks tetapi berbeda dengan aku, saat yang lain sibuk untuk pemanasan justru aku malah mencari hewan jangkrik yang ada di tepi sungai. Walaupun ini hanyalah lomba yang sederhana namun kami menganggap bahwa ini adalah lomba yang menentukan harga diri kami dan untuk membuktikan siapa yang paling jago berenang. Saat perlombaan baru saja dimulai Imar langsung tancap gas memimpin perlombaan sedangkan aku masih di posisi tengah. Namun saat di tengah perlombaan Imar mulai melambat dan pada saat itu lah kesempatan bagus untuk melewatinya. Pada akhirnya aku hanya bisa di posisi 2 di belakang Joni yang memang paling hebat kalau soal berenang. Sedangkan untuk yang di posisi paling buncit adalah Arda.
Setelah lama bermain akhirnya kami pun pulang. Tidak terasa hari sudah sangat sore sekali, mungkin karena kami terlalu asik untuk bermain sampai lupa untuk pulang dan tidak mengenal waktu. Aku lupa bahwa aku hanya boleh bermain sampai jam 3. Kami pun bergegas cepat cepat karena kami mungkin sudah dinanti oleh orang tua kami.
Aku melangkah demi langkah menuju rumahku. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai, namun bapak sudah menungguku di depan pintu dengan ditemani sebuah tongkat ditangannya. Jantungku berdebar dengan kencang bercampur rasa takut yang menyelimuti hatiku. Dalam pikiranku hanya ada kalimat sekarang sudah jam berapa. Rasa takutku kian membesar saat kutatap langsung wajah bapak. Dalam hitungan detik satu pukulan tongkat dengan cepat hampir mengenai kakiku. Mengerti aku akan di pukul secara spontan kakiku menghindar. Aku berlari dengan sangat kencang seperti angin tanpa tahu harus pergi kemana. Sedangkan bapak masih mengejarku dari belakang. Setelah lama berlari akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sawah. Aku menengok kebelakang ternyata bapak sudah tidak terlihat lagi. Setelah berlari lama aku pun mencari tempat untuk beristirahat sejenak.
“Diki, mau kemana kamu kok seperti habis di kejar anjing?” tanya Muni dari arah belakang. Dia adalah temanku yang memang sering sekali di sawah saat sore hari.
Aku hanya bisa membisu seribu kata saat pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Tanpa ada kata yang aku keluarkan aku pun langsung pergi dari tempat itu. Setelah pergi dari Muni tanpa terasa adzan magrib pun sudah berkumandang. Hatiku gelisah sedang memikirkan dimana aku akan tidur setelah ini. Karena, tidak mungkin aku akan pulang sekarang, apabila pulang sekarang mungkin akan banyak pukulan yang akan mengarah ke arahku. Setalah berfikir lama akhirnya aku memutuskan untuk bermalam di sebuah gubuk di tengah sawah.
Malam ini udara terasa dingin hingga menusuk tulang dengan di temani suara katak dan jangkrik serta bintang yang ada di langit. Aku hanya bisa menatap langit dan berfikir kenapa tadi aku berlari. Aku terus berfikir dengan di temani iringan nyanyian katak. Aku memang anak yang ceroboh dan lupa waktu. Aku menyadari bahwa tindakan tadi adalah tindakan yang bodoh. Aku menyayangkan diriku yang tidak bisa bertanggung jawab saat melakukan kesalahan.
 Tiba tiba suara perutku berbunyi dengan keras aku mengingat bahwa terakhir makan adalah tadi siang. Karena suara perutku semakin lama semakin keras akhirnya pun aku mencari makanan di sekitar sawah. Namun karena tidak menemukan sesuatu akhirnya aku melanjutkan mencari di bawah tower yang letaknya tidak jauh dari gubuk.
Saat aku mancari buah di bawah tower ada seseorang memanggilku dari arah belakang
“Diki, ngapain kamu ada di sini? Tadi bapakmu mencari kamu”
Karena takut akan di bawa pulang aku pun menghindar dan berpura pura kalau aku tidak mendengarnya. Dia mendekatiku dan terus mengucapkan kata kata yang sama. Setelah dia di sampingku dia pun membujukku untuk pulang. Pada awalnya aku tidak mau karena aku memang masih takut. Namun setelah mendengar perkataan bahwa bapak dari tadi mencariku kemana mana hatiku langsung luluh dan mau untuk di ajak pulang.
Sesampainya di rumah ternyata bapak sudah menyambutku tapi tidak ditemani oleh tongkat namun di sambut dengan sebuah pelukan hangat kepadaku. Aku menangis dan meminta maaf kepada bapak dan aku berjanji untuk mengerti waktu dan bertanggung jawab saat melakukan kesalahan bukannya lari dari tanggung jawab justru karena itu akan membuat sebuah masalah menjadi lebih rumit.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar