Lupa Waktu
Bel
sekolah mulai terdengar. Suasana sunyi di kelas terpecah dan mulai tidak
terkendali. Suara ricuh seperti Pasar Tanah Abang menandakan bahwa sekarang
adalah waktunya untuk pulang sekolah. Segera aku menuju ke tempat parkiran dan
ku ambil sepedah gayuhku. Jarak sekolah ke rumah memang lah tidak jauh mungkin
hanya sekitar 1 km namun itu sudah cukup untuk membuat seluruh badanku
bercucuran keringat.
Seperti
biasa sepulang sekolah aku langsung menuju kamar. Seakan akan kamar adalah
tempat pertama yang harus ku datangi terlebih dahulu. Yah, dipikiranku kamar
adalah duniaku. Setelah mengganti pakaian aku segera menuju dapur untuk makan
siang.
“Diki
main yuk, ke tempat baru!” suara Imar memanggil namaku dari luar rumah.
Secara
tergesa gesa ku langsung keluar dari rumah untuk menemui temanku. Sebelum
berangkat aku meminta ijin kepada bapak dan diberi batas waktu sampai jam 3
harus sudah sampai rumah. Tanpa pikir panjang aku langsung ikut tanpa menanyakan
mau pergi kemana. Karena alasan yang tidak jelas dari Imar, kami harus mencari
teman lain lagi untuk bisa pergi ke tempat misterius itu. Walaupun itu butuh
waktu lama namun untuk menuju tempat misterius itu aku harus mengikuti
perkataan teman ku.
Setelah
burkumpul kami berlima sudah siap untuk menuju tempat itu. Ternyata medan yang
harus kami lewati adalah pematang sawah yang sangat luas serta para petani yang
sibuk dengan sawahnya. Selain petani kami juga banyak menumui orang yang
bekerja di tempat pembuatan batu bata. Setelah sekitar 20 menit berjalan
menyusuri sawah akhirnya kami sampai juga di tempat yang di katakan teman ku
itu. Ternyata tempat itu adalah sebuah sungai yang besar yang belum pernah ku
temui .
Setelah
mengerti bahwa tempat itu adalah sungai tanpa berfikir panjang aku dan teman
teman ku langsung mandi sambil bermain air. Untuk menambah kenikmatan, Imar
mencari batang pisang untuk digunakan mainan. Kami berlima memang jago berenang
oleh karena itu aku mempunyai ide untuk membuat lomba renang dengan hukuman
yang kalah harus berjalan belakang sendiri saat pulang. Sebelum berlomba kami
pun bersiap siap. Ada yang sudah pemanasan dengan renang kesana kemari, ada
juga yang masih senam untuk membuat tubuh rileks tetapi berbeda dengan aku,
saat yang lain sibuk untuk pemanasan justru aku malah mencari hewan jangkrik
yang ada di tepi sungai. Walaupun ini hanyalah lomba yang sederhana namun kami
menganggap bahwa ini adalah lomba yang menentukan harga diri kami dan untuk
membuktikan siapa yang paling jago berenang. Saat perlombaan baru saja dimulai
Imar langsung tancap gas memimpin perlombaan sedangkan aku masih di posisi
tengah. Namun saat di tengah perlombaan Imar mulai melambat dan pada saat itu
lah kesempatan bagus untuk melewatinya. Pada akhirnya aku hanya bisa di posisi
2 di belakang Joni yang memang paling hebat kalau soal berenang. Sedangkan
untuk yang di posisi paling buncit adalah Arda.
Setelah
lama bermain akhirnya kami pun pulang. Tidak terasa hari sudah sangat sore
sekali, mungkin karena kami terlalu asik untuk bermain sampai lupa untuk pulang
dan tidak mengenal waktu. Aku lupa bahwa aku hanya boleh bermain sampai jam 3.
Kami pun bergegas cepat cepat karena kami mungkin sudah dinanti oleh orang tua
kami.
Aku
melangkah demi langkah menuju rumahku. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai,
namun bapak sudah menungguku di depan pintu dengan ditemani sebuah tongkat
ditangannya. Jantungku berdebar dengan kencang bercampur rasa takut yang
menyelimuti hatiku. Dalam pikiranku hanya ada kalimat sekarang sudah jam
berapa. Rasa takutku kian membesar saat kutatap langsung wajah bapak. Dalam
hitungan detik satu pukulan tongkat dengan cepat hampir mengenai kakiku.
Mengerti aku akan di pukul secara spontan kakiku menghindar. Aku berlari dengan
sangat kencang seperti angin tanpa tahu harus pergi kemana. Sedangkan bapak
masih mengejarku dari belakang. Setelah lama berlari akhirnya aku memutuskan
untuk pergi ke sawah. Aku menengok kebelakang ternyata bapak sudah tidak terlihat
lagi. Setelah berlari lama aku pun mencari tempat untuk beristirahat sejenak.
“Diki,
mau kemana kamu kok seperti habis di kejar anjing?” tanya Muni dari arah
belakang. Dia adalah temanku yang memang sering sekali di sawah saat sore hari.
Aku
hanya bisa membisu seribu kata saat pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
Tanpa ada kata yang aku keluarkan aku pun langsung pergi dari tempat itu.
Setelah pergi dari Muni tanpa terasa adzan magrib pun sudah berkumandang.
Hatiku gelisah sedang memikirkan dimana aku akan tidur setelah ini. Karena, tidak
mungkin aku akan pulang sekarang, apabila pulang sekarang mungkin akan banyak
pukulan yang akan mengarah ke arahku. Setalah berfikir lama akhirnya aku
memutuskan untuk bermalam di sebuah gubuk di tengah sawah.
Malam
ini udara terasa dingin hingga menusuk tulang dengan di temani suara katak dan
jangkrik serta bintang yang ada di langit. Aku hanya bisa menatap langit dan
berfikir kenapa tadi aku berlari. Aku terus berfikir dengan di temani iringan
nyanyian katak. Aku memang anak yang ceroboh dan lupa waktu. Aku menyadari
bahwa tindakan tadi adalah tindakan yang bodoh. Aku menyayangkan diriku yang
tidak bisa bertanggung jawab saat melakukan kesalahan.
Tiba tiba suara perutku berbunyi dengan keras
aku mengingat bahwa terakhir makan adalah tadi siang. Karena suara perutku semakin
lama semakin keras akhirnya pun aku mencari makanan di sekitar sawah. Namun
karena tidak menemukan sesuatu akhirnya aku melanjutkan mencari di bawah tower
yang letaknya tidak jauh dari gubuk.
Saat
aku mancari buah di bawah tower ada seseorang memanggilku dari arah belakang
“Diki,
ngapain kamu ada di sini? Tadi bapakmu mencari kamu”
Karena
takut akan di bawa pulang aku pun menghindar dan berpura pura kalau aku tidak
mendengarnya. Dia mendekatiku dan terus mengucapkan kata kata yang sama.
Setelah dia di sampingku dia pun membujukku untuk pulang. Pada awalnya aku
tidak mau karena aku memang masih takut. Namun setelah mendengar perkataan
bahwa bapak dari tadi mencariku kemana mana hatiku langsung luluh dan mau untuk
di ajak pulang.
Sesampainya
di rumah ternyata bapak sudah menyambutku tapi tidak ditemani oleh tongkat
namun di sambut dengan sebuah pelukan hangat kepadaku. Aku menangis dan meminta
maaf kepada bapak dan aku berjanji untuk mengerti waktu dan bertanggung jawab
saat melakukan kesalahan bukannya lari dari tanggung jawab justru karena itu akan
membuat sebuah masalah menjadi lebih rumit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar